Skip to main content

Happy Birthday My Husband and My Son

Holaa.. nggak terasa sudah 2 bulan diriku gak ngeblog sama sekali.. Gimana mau ngeblog, aku sibuk bangeeeett dan beberapa kali terkendala beberapa drama kehidupan di sini haha.. Prahara pertama dimulai waktu bulan Februari 2015.. waktu itu kami merencanakan buat mengurus visa mama dan Jose untuk bisa ke Australia.. Ya rencana kami sih mau merayakan ulang tahun suami, Jose dan mama yang saling berdekatan itu semuanya di Melbourne.. Tapi ternyata, di tengah tengah pengurusan visa itu, agenku bilang bahwa visa Jose bakalan terkendala bank statement.. Karena Indonesia masih dianggap negara yang rawan menjadi imigran gelap (halah kasian banget ya), jadinya kita yang mau kesana sebagai turis harus punya bank statement yang amat besar jumlahnya, lagian orangtua Jose (kami) ini masih memegang visa student yang notabene buat menanggung biaya pendidikan aja sudah berat, bagaimana mau membawa anak kemari, gitu.. Singkat cerita, hanya visa mama yang bisa di-approve oleh Australian Goverment, sedangkan visa Jose harus berupa visa dependent, bkn visa turis karena usianya masih dibawah 5 tahun dan rawan ndak dipulangkan oleh orang tuanya.. Waktu itu aku sebeeeel banget dan kecewa banget sama Australian Goverment, karena selain aku dah beli tiket buat mereka sebelumnya, rencana kami merayakan ultah bersama di Melbourne pun buyar..

But life must go on, suamiku terus meyakinkan kalau pasti ini ada sesuatu, kalo misal kita berencana tapi Tuhan belum memberikan, berarti ada hal yang mungkin gak baik buat kita kalau Jose dan mama harus kemari.. Benar juga, beberapa hari setelahnya saya mendapat email dari Air Asia kalau pesawat KL-Melbourne delay, jadi kalau mama dan Jose berangkat, berarti mereka harus menunggu transit selama kira kira hampir 10 jam.. Gila kan! Nah karena hal itulah kejadian langka di Air Asia terjadi, tiket yang sudah terlanjur kami beli boleh di-refund karena pesawat delay itu merupakan kelalaian Air Asia.. Lumayanlah daripada tiket hangus dan gigit jari, berarti aku bisa pakai uang refund itu untuk bayar tiket pesawat ke Indo waktu ulang tahun mama hehehe..

Anyway, karena waktu ulang tahun suami (17-3-2015) dan Jose (20-03-2015), aku belum libur, jadinya kami merayakannya di Melbourne deh.. Sedih juga karena waktu ulang tahun suami aku harus sekolah dan pergi kerja, baru balik rumah jam 11 malam waktu itu.. Tapi untungnya aku sekarang tinggal bersama flatmate yang asyik asyik! Salah satunya itu koki, jadi kami gak perlu beli kue ultah, dia yang bikinin kue red velvet strawberry cheesecake, gratisss! Dan rasanya.. muantteeeeppp poll!


Bersama Tante Sisca (induk semang), Ko Edi (Dokter), Mario (Chef)

My husband 30th birthday

Kami pun senang karena mama mengirimkan foto Jose yang mengucapkan happy birthday
Thank you mama dan Jose

Ulang tahun suami ditutup dengan acara makan kue bersama dan minum wine sweet lips.. hohohoho..
Tanggal 20 kemarin, anakku Jose juga ulang tahun looo.. Ulang tahun yang pertama.. sayangnya kami cuman bisa mengucapkan via skype dan aku harus menunggu bulan April untuk merayakan belated birthday nya Jose dan birthday-nya mama..
Beruntung keluarga suamiku menggantikan posisi kami dan merayakan Jose's first birthday di Surabaya.. 
Jose udah setahun lhooo..

Terimakasih buat teman teman yang sudah peduli, buat keluarga yang sudah menyediakan waktu dan tenaga buat merayakan ulang tahun orang orang yang paling aku cintai.. God bless you all!
Kami saat ini masih berada di perantauan.. Namanya juga orang lagi berusaha meraih kesuksesan.. ada harga yang harus kami bayar.. Just for our better future! :)



Written by: Anita (21-03-2015)



Comments

Popular posts from this blog

Welcome 2017, Goodbye PTE and IELTS!

Hi, this is my first time to post an article in English.. Sorry for any grammar mistakes which might occur in this article :) I just want to share my horrid experience with PTE and IELTS in 2016. A rough journey, indeed, but Thanks God, I finally made it! I decide to write this in English to help everyone who have a plan to take an English proficiency test for any purposes. As you know, if you want to study abroad or migrate to some English Speaking Countries, like Australia, Canada or England, you definitely have to take this test. You can select the one which suits you best, either PTE or IELTS. IELTS academic for study purposes, and IELTS general for migration (except for teacher or nurse - they do not have any choices but the academic one). My journey to pursue the proficient level, IELTS 7 each or PTE 65 each started at the end of 2015. The meaning of each is I have to get minimum 7 in reading, listening, speaking and writing in IELTS or 65 in PTE Academic. My first choice was...

Akhirnya kami jadi Permanent Resident Australia

Akhirnyaaaa… Kami sekeluarga mendapatkan permanent residency dari Pemerintah Australia. Satu lagi mujizat Tuhan yang terbesar dalam hidupku. Perjalanan kami untuk mendapatkan PR Australia ini cukup panjang dan berkelok kelok dan dengan kuasa Tuhan, DIA membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. Berawal dari perbincangan saya dengan teman semasa kuliah dulu di tahun 2014, saya dan suami bertekad untuk mendapatkan permanent residency ini. Dan langkah yang kami ambil sebenarnya sangat ekstrem. Saat itu saya sedang hamil Jose. Di bulan ke 7 kehamilan saya, saya mencoba mendaftar di salah satu Institute di Melbourne dan akhirnya diterima di sana. Kami menjual aset kami yang ada di Indonesia untuk terbang ke Melbourne dan memulai hidup sebagai student di sana. Dengan berat hati karena pemegang Student Visa Australia tidak bisa mendapatkan fasilitas Childcare yang harganya bisa mencapai 700ribu rupiah / 60-70 AUD per hari maka kami pun meninggalkan anak kami yang masih bayi yang saat...

Ikatan batin anak dan orang tua yang tinggal terpisah

Setelah 6 bulan nggak pulang ke Indonesia, akhirnya saya pulang juga tanggal 11 April kemarin buat ambil beberapa dokumen, having quality time dengan anak yang harus sementara saya titipkan ke mama dan sekaligus buat merayakan ultah mama. Setelah sekian lama saya bersama suami merantau ke Melbourne dan study disana, ada banyak suka dukanya. Sukanya adalah kami merasa bersyukur bisa merasakan pengalaman yang (mungkin) belum tentu dirasakan oleh orang lain, atau mungkin ada beberapa orang yang sangat ingin merantau dan menimba ilmu di negeri Kangguru tapi belum mendapat pencerahan (seperti saya dulu karena keinginan ini baru tercapai setelah saya menikah dan punya anak). Dukanya.. tentu bisa ditebak! Berpisah dengan anak untuk bekerja dan belajar di sana itu bisa jadi "cemoohan" beberapa orang. Banyak sekali orang yang ketemu dan tau bahwa kami sudah punya anak langsung memberikan judgement " How can you do that??" dan tentu saja itu tidak bisa saya artikan sebagai p...