Skip to main content

My First Month in Melbourne

Akhirnya.. setelah sebulan rada grotal gratul, perlahan tapi pasti aku dan suami mulai mendapatkan pencerahan.. Terimakasih banget buat Tuhan Yesus yang sudah menyertai kami, mempertemukan kami dengan orang orang yang baik hati di Melbourne, meskipun sebelumnya kami belum pernah mengenal satu dengan yang lain.. 
Awal awal kedatangan kami kesini, kami dijemput oleh housemate kami, Taufan (kami tinggal bersama istri dan anaknya), baik hati kan.. Padahal kami belum pernah ketemu sebelumnya.. Untuk pesan taksi uber disini aja sekali jemputan kita kena charge 50 dollar, tapi kami nggak kena charge karena dijemput oleh housemate kami dengan cuma cuma.. Hari itu juga aku langsung ke kampus, orientasi, lalu pulangnya ada suamiku dan 2 teman kami (kalo yang ini kami udah kenal sebelumnya). Susu dan Bobbi yang jadi tour guide kami untuk mengurus akun bank dan simcard telepon, lalu beli kartu myki, beli beras dan sebagainya..

Bobbi juga baik banget karena kami ditraktir makan 2x.. Pertama di restoran padang, kedua di restoran Itali.. Akhirnya baru pertama kali aku coba buah zaitun yang ternyata rasanya kecut kecut aneh gitu wkwk..



Hari hari pertama kami cuma membawa indomi, telur yang kami beli di supermarket, bersama roti tawar karena belum sempat belanja di pasar sampai hari minggunya.. Itupun kami diberi lauk juga oleh Elfi, istrinya housemate.. Bumbu bumbu dapur dan peralatan bisa kami pakai juga.. Kami bersyukur banget.. Padahal awal awal datang kami limbung nggak tau arah hahaha.. Melalui komunitas Indo-Melbourne juga suami mendapatkan ceperan kerjaan buat kehidupan kami di awal awal.

Lalu untuk gereja, minggu pertama kita taunya cuman Bethany, lalu minggu berikutnya kami mencoba gereja komunitas Indonesia yang lain, yang direkomendasikan oleh Agen kami di Surabaya.. Gereja itu pendetanya namanya Pak Ivan, sama ya kayak nama suamiku haha.. Saat itu kami memutuskan untuk memilih gereja ini karena lingkupnya lebih homey dan terbuka juga untuk pelayanan. Nah, waktu aku mau berangkat ke Melbourne ini sebenernya aku terpanggil buat pelayanan karena udah lama banget sejak lulus SMA aku nggak pelayanan di gereja. Pak Ivan ini ternyata orangnya baiiikkk juga, suamiku diberi info kerjaan lagi jadi kami punya pemasukan tambahan..

Nah setelah suamiku dapet kerjaan di beberapa tempat, aku sebulan ini sibuk banget cari kerjaan yang tepat huhuhuhu.. Akhirnya 2 hari yang lalu aku di-training juga buat kerja part time di 711.. Aduuhhh aku bener bener berharap keterima disini nih, soalnya ini kerjaan pas banget sama keinginanku.. Aku emang pinginnya kalo part time gitu di supermarket/minimarket/toko hehe.. Bosnya pun baik.. Bener bener ngarep banget dah aku, semoga training ini berhasil..

Lalu untuk hari hariku di kampus, aku juga seneng banget karena aku menemukan kampus yang tepat, temen temen yang baik.. Di kampusku banyak banget siswa International, tapi yang Indonesia sekelas cuman aku.. Yang lucu, ada temenku yang gak bisa nyebut negara Indonesia, selalu kepeleset jadi "Kaledonia", temenku ini orang Fiji (hayo tau ndak di mana Fiji itu), namanya Nalini.. Orang ini malah yang jadi "koncoplek"-ku karena dia sukanya nemplek terus di aku wkwk.. Di kelas karena pelajarannya tentang pendidikan anak anak, jadinya sekelas cewek smua deh.. Tapi asyik kok, karena ada peraturan nggak boleh mem"bully", bakal ada hukuman tegas buat hal itu..

Sekarang ini, aku dan suami lagi mau bekerja keras, ngumpulin duit buat nanti kalo Jose dah dateng, kita bisa tinggal di rumah sendiri.. Tapi overall, buat pengalaman tinggal sama housemate juga seneng kok.. Karena sekali lagi, Tuhan yang merancangkan rencana yang indah untuk kami..



Suasana rumah di Brunswick

Aku percaya, kalau kita hidup benar, nggak berbuat jahat, pasti Tuhan akan menuntun langkah kita.. Aku dan suami bukanlah manusia yang sempurna, tapi kami akan berusaha keras untuk selalu hidup benar.. Just for our better future! :)




By: Anita (12-11-2014)

Comments

  1. Weeeii.. tengkyu yahh.. tapi sapa ini ya kok tulisane anonymous lagi? Hehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Welcome 2017, Goodbye PTE and IELTS!

Hi, this is my first time to post an article in English.. Sorry for any grammar mistakes which might occur in this article :) I just want to share my horrid experience with PTE and IELTS in 2016. A rough journey, indeed, but Thanks God, I finally made it! I decide to write this in English to help everyone who have a plan to take an English proficiency test for any purposes. As you know, if you want to study abroad or migrate to some English Speaking Countries, like Australia, Canada or England, you definitely have to take this test. You can select the one which suits you best, either PTE or IELTS. IELTS academic for study purposes, and IELTS general for migration (except for teacher or nurse - they do not have any choices but the academic one). My journey to pursue the proficient level, IELTS 7 each or PTE 65 each started at the end of 2015. The meaning of each is I have to get minimum 7 in reading, listening, speaking and writing in IELTS or 65 in PTE Academic. My first choice was...

Akhirnya kami jadi Permanent Resident Australia

Akhirnyaaaa… Kami sekeluarga mendapatkan permanent residency dari Pemerintah Australia. Satu lagi mujizat Tuhan yang terbesar dalam hidupku. Perjalanan kami untuk mendapatkan PR Australia ini cukup panjang dan berkelok kelok dan dengan kuasa Tuhan, DIA membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. Berawal dari perbincangan saya dengan teman semasa kuliah dulu di tahun 2014, saya dan suami bertekad untuk mendapatkan permanent residency ini. Dan langkah yang kami ambil sebenarnya sangat ekstrem. Saat itu saya sedang hamil Jose. Di bulan ke 7 kehamilan saya, saya mencoba mendaftar di salah satu Institute di Melbourne dan akhirnya diterima di sana. Kami menjual aset kami yang ada di Indonesia untuk terbang ke Melbourne dan memulai hidup sebagai student di sana. Dengan berat hati karena pemegang Student Visa Australia tidak bisa mendapatkan fasilitas Childcare yang harganya bisa mencapai 700ribu rupiah / 60-70 AUD per hari maka kami pun meninggalkan anak kami yang masih bayi yang saat...

Ikatan batin anak dan orang tua yang tinggal terpisah

Setelah 6 bulan nggak pulang ke Indonesia, akhirnya saya pulang juga tanggal 11 April kemarin buat ambil beberapa dokumen, having quality time dengan anak yang harus sementara saya titipkan ke mama dan sekaligus buat merayakan ultah mama. Setelah sekian lama saya bersama suami merantau ke Melbourne dan study disana, ada banyak suka dukanya. Sukanya adalah kami merasa bersyukur bisa merasakan pengalaman yang (mungkin) belum tentu dirasakan oleh orang lain, atau mungkin ada beberapa orang yang sangat ingin merantau dan menimba ilmu di negeri Kangguru tapi belum mendapat pencerahan (seperti saya dulu karena keinginan ini baru tercapai setelah saya menikah dan punya anak). Dukanya.. tentu bisa ditebak! Berpisah dengan anak untuk bekerja dan belajar di sana itu bisa jadi "cemoohan" beberapa orang. Banyak sekali orang yang ketemu dan tau bahwa kami sudah punya anak langsung memberikan judgement " How can you do that??" dan tentu saja itu tidak bisa saya artikan sebagai p...