Skip to main content

Papa

Delapan tahun yang lalu, di akhir bulan delapan, Papa meninggal. Sedih? Iya. Tapi bukan karena perasaan kehilangan yang sangat besar seperti seorang anak pada papa yang memiliki hubungan dekat, perasaan sedihku justru disebabkan karena kami tidak pernah memiliki hubungan dekat.

Banyak dari kalangan keluarga papa yang menyalahkan aku, katanya.. kenapa sebagai anak tidak perhatian sama papa dll dst. Hanya beberapa saudara sepupu dari pihak papa yang dulu sering bergaul denganku waktu kecil (karena umur tidak beda jauh) yang mengerti mengapa kami tidak pernah dekat.

Dulu waktu aku naik kelas 4 SD, kira kira umur 8 atau 9 tahun, papa yang saat itu memiliki usaha yang sedang berada di puncak kesuksesan mau menyekolahkanku ke Singapura. Kebetulan waktu itu salah seorang saudara dari mama memang tinggal dan memiliki unit di apartment di Singapura. Rencananya nanti saya akan tinggal juga di unit milik saudara tersebut, bersama saudara seumuran yang lain, yang juga akan bersekolah SD di Singapura.

Rencana tinggal rencana. Ketika kami tiba di Singapura, ternyata saudara yang tadinya setuju jika saya tinggal sharing dengan mereka (split bill tentunya), menolak untuk mengizinkan saya tinggal di unitnya. Mereka menyuruh orang tua saya untuk menempatkan saya di kos-kosan saja. Nanti biar seminggu sekali mereka jenguk saya waktu weekend tiba.

Akhirnya dengan berat hati mama dan papa saya meninggalkan saya yang baru berusia 9 tahun di kos-kosan di negeri orang. Orang tua saya kembali pulang ke Indonesia karena memang memiliki usaha di sana.

Seminggu.. dua minggu.. kunjungan yang dijanjikan pun tidak pernah datang. Pertahanan saya pecah dan saya akhirnya telepon mama dan papa untuk dijemput kembali pulang ke Indonesia.

Akhirnya papa lah yang menjemput saya ke Singapore waktu itu. Saya senang sekali dan saya gandeng erat papa di daerah Bugis waktu itu sambil pergi makan siang. Rasanya, itulah satu satunya kenangan paling indah bersama papa. Karena saat pulang kembali ke Indonesia, segalanya berubah.

Saat saya sudah tiba kembali di Indonesia, saya cukup beruntung karena mama sudah mendaftarkan saya di kelas 4 SD di sekolah lama saya, jadi saya bisa langsung melanjutkan sekolah di Indonesia tanpa menunggu lama. Aktivitas saya pun kembali seperti semula. Hanya saja perlakuan papa pada saat itu berubah.

Suatu siang di Tunjungan Plaza saya mencoba menggandeng tangan papa. Tetapi papa mengibaskan tanganku. Papa bilang berulang kali bahwa saya ini bikin dia malu. Papa sudah terlanjur bilang ke semua saudara dan teman kalau saya akan sekolah di Singapore, eh nggak taunya saya malah pulang kembali karena nggak betah di sana.

Sejak saat itu kami jarang bicara dan nggak tau sejak kapan hubungan kami renggang. Saudara saudara yang lain dari papa dan mama pun nggak kalah menyakitkan. Mereka bilang "oh.. ini anak yang nggak jadi sekolah di Singapore itu loh..". Statement itu melekat bertahun tahun pada saya hingga saya pun bertekad nanti kalau sudah besar saya akan berangkat sekolah ke negeri yang lebih jauh.

Tapi ternyata Tuhan pun berkehendak lain. Waktu saya SMA kelas 3 dan hendak sekolah di luar negeri, usaha papa bangkrut. Meskipun tidak tau penyebab pastinya karena tidak ada bukti tertulis, tetapi papa bilang kalau papa ditipu oleh Saudara mama yang berdomisili di Singapura itu. Waktu itu saya hanya mbatin, keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama kedua kalinya. Kalau dulu orang tua saya pernah dikecewakan waktu saya hendak sekolah di Singapura, mengapa masih saja nekad berbisnis dengan orang semacam itu.

Saya pun akhirnya berkuliah di Universitas Petra jurusan Arsitektur. Sedangkan papa berkali kali jatuh sakit, stroke dan semakin depresi karena post power syndrome. Kami tetap tidak pernah dekat bahkan saya sempat berdoa pada Tuhan agar saya diberi papa pengganti saja - yang ternyata sampai sekarang tidak dikabulkan olehNya. Kecuali dapat tambahan papa mertua.

Di semester akhir saya waktu itu akhirnya papa meninggal tanpa meninggalkan apapun pada saya. Baik warisan ataupun kenangan indah. Oh mungkin ada satu yang papa tinggalkan pada saya, perkenalan pada lagu Ai Pia Cia E Ya.

三分天注定 七分靠打拼
Sa hun ti cut tia, jit hun ko ba pia
Thirty percent is Heaven's will, Seventy percent is hard work

Papa, saat ini jika saja papa masih hidup, saya ingin bilang: sudah 20 tahun sejak perkara batalnya sekolah di Singapore itu. Tenang saja papa, anakmu ini sudah pernah mengenyam bangku pendidikan di Australia, menantumu juga akan memulainya sebentar lagi. Ini bukan karena kuat dan hebatku, tapi karena Tuhan yang tidak ingin umat-Nya dipermalukan (Roma 10:11). Dan yang paling penting, akan kusekolahkan cucumu sedari Taman Kanak-Kanak di Australia. Doakan agar kami bisa sukses di sana. Just for our better future!


Written by: Anita (31-08-2017)

Comments

Popular posts from this blog

Akhirnya kami jadi Permanent Resident Australia

Akhirnyaaaa… Kami sekeluarga mendapatkan permanent residency dari Pemerintah Australia. Satu lagi mujizat Tuhan yang terbesar dalam hidupku. Perjalanan kami untuk mendapatkan PR Australia ini cukup panjang dan berkelok kelok dan dengan kuasa Tuhan, DIA membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. Berawal dari perbincangan saya dengan teman semasa kuliah dulu di tahun 2014, saya dan suami bertekad untuk mendapatkan permanent residency ini. Dan langkah yang kami ambil sebenarnya sangat ekstrem. Saat itu saya sedang hamil Jose. Di bulan ke 7 kehamilan saya, saya mencoba mendaftar di salah satu Institute di Melbourne dan akhirnya diterima di sana. Kami menjual aset kami yang ada di Indonesia untuk terbang ke Melbourne dan memulai hidup sebagai student di sana. Dengan berat hati karena pemegang Student Visa Australia tidak bisa mendapatkan fasilitas Childcare yang harganya bisa mencapai 700ribu rupiah / 60-70 AUD per hari maka kami pun meninggalkan anak kami yang masih bayi yang saat...

No Poo - Keramas Tanpa Shampoo

Sudah ada yang pernah dengar tentang No Poo? Keramas tanpa shampoo.. Yang pasti aku bukanlah orang pertama yang melakukan No Poo ini di Indonesia, karena aku udah pernah nemu artikel no poo, seperti  di sini  contohnya (pada artikel ini penulis melakukan low poo, yaitu keramas tanpa shampoo, tetapi masih memakai conditioner) atau  di sini  juga ada (kalo yang ini kayaknya si penulis suka meracik bahan bahan go green) ..  Nah, pada postingan ini aku mau menceritakan pengalamanku melakukan no poo, beserta foto foto pembandingnya.. Perjalanan melakukan no poo ini berawal dari masalah kerontokan rambutku.. Yah, aku dilahirkan dengan rambut yang tidak selebat mamaku, atau suamiku.. Rambutku bentuknya tipis tipis, lemes, kalau potong model sebahu gampang "njepat".. Sudah beberapa tahun terakhir mengalami kerontokan, lalu aku pakai shampoo pantene anti hairfall untuk mengurangi kerontokan.. Tadinya aku pakai 2 hari sekali, sampai akhirnya aku menikah.. Nah suami...

Welcome 2017, Goodbye PTE and IELTS!

Hi, this is my first time to post an article in English.. Sorry for any grammar mistakes which might occur in this article :) I just want to share my horrid experience with PTE and IELTS in 2016. A rough journey, indeed, but Thanks God, I finally made it! I decide to write this in English to help everyone who have a plan to take an English proficiency test for any purposes. As you know, if you want to study abroad or migrate to some English Speaking Countries, like Australia, Canada or England, you definitely have to take this test. You can select the one which suits you best, either PTE or IELTS. IELTS academic for study purposes, and IELTS general for migration (except for teacher or nurse - they do not have any choices but the academic one). My journey to pursue the proficient level, IELTS 7 each or PTE 65 each started at the end of 2015. The meaning of each is I have to get minimum 7 in reading, listening, speaking and writing in IELTS or 65 in PTE Academic. My first choice was...