Skip to main content

We Start Walking on June 2015

Setelah absen ngeblog sebulan lebih akhirnya saya ada waktu untuk ngeblog juga.. Ini karena di bulan Mei saya sibuk banget nyelesaiin serifikat sebagai Assistant Educator di Melbourne dan lagi hunting pekerjaan. Sesuai dengan judul "start walking", kalau di Australia ini, tanpa ada sertifikat (award) atau apapun, pekerjaan yang bisa dijalani hanyalah pekerjaan "ngesot".. Hanya ada beberapa orang yang beruntung karena punya skill atau kelebihan (dan berkat luar biasa dari Tuhan) yang bisa bekerja dengan gaji taraf Australia. Contohnya, Ivan, suamiku itu.. dia diberkati Tuhan luar biasa dan punya skill fisik luar biasa sehingga bisa kerja di proyek tanpa punya sertifikat, bahkan ijazah dari Indo juga  bukan S1 Teknik, dan kemampuan berbahasa Inggrisnya juga biasa saja.. sedangkan saya yang lebih paham Bahasa Inggris dan sedang berkutat dengan sertifikat, di awal awal bulan saya tiba di Melbourne, ya bisanya cuman dapet pekerjaan "ngesot" itu tadi.. Berawal dari 2 bulan pertama nganggur dan akhirnya dapat pekerjaandi restoran Malaysia yang cuman dibayar 9 dollar per jam, lalu minggat karena gaji kekecilan.. Berikutnya kerja di restoran Korea tapi restorannya sepi jadi akhirnya Istrinya yang punya resto itu kerja sendiri jadi waitress untuk menekan biaya, lalu kerja di resto Indo yang harus merangkap sebagai Waitress - Kitchen hand - Cashier.. semuanya nggak ada yang tahan lama.. Entah karena gak hoki banget sama kerjaan begitu atau saya yang gak punya skill sebagai waitress (karena takut banget ngangkat piring kotor banyak banyak, takut jatuh..), yang pasti Tuhan menyediakan berkat yang lebih besar di pekerjaan yang lain.. Berawal dari bulan Februari 2015 (4 bulan setelah tiba di Melbourne)  saya dapat kerja sebagai private carer semi-homeschooling buat anak usia 1,5 tahun. Keluarga ini keluarga Kristen, bapaknya orang Chinese-Brunai dan ibunya orang Chinese-Malaysia, mereka permanent resident di Australia dan punya kerjaan yang bagus, si Ibu ini lawyer dan si bapak dokter.. Mantap kan.. Mereka pingin anaknya sudah bisa mengerti beberapa kata, membaca, mengenal angka dan lain lain di usia yang sangat dini (pertama kali saya kerja disana anaknya baru 13 bulan dan sudah bisa paham beberapa kata). Dan karena mereka keluarga Kristen, kebetulan mereka ingin punya pengajar Kristen juga buat anaknya supaya sekalian bisa belajarin baca alkitab.. Nah disini saya bisa menentukan tarif saya sendiri per jam (saya juga gak matok mahal mahal amat sih, sesuai standard gaji minimum Australia aja), tapi di awal mereka cuman butuh saya datang seminggu sekali.. Seiring berjalannya waktu, mulai bulan Juni dan seterusnya mereka mau memanggil saya 2x seminggu karena sudah cocok dan anaknya juga semakin besar.. cihui!

Di bulan Juni ini juga saya dipanggil interview oleh Camp Australia.. Camp Australia ini membutuhkan tenaga asisten pengajar, untuk membantu anak anak yang datang sebelum guru sekolah datang dan belum pulang saat guru sekolah sudah pulang.. Anak anak ini biasanya orang tuanya bekerja sehingga mereka diantar ke sekolah pagi banget sebelum sekolah buka, dan saat pulang sekolah (jam 3), si ortu masih kerja sampai jam 5.. Saya pingin kerjaan ini karena kerjaannya kan cuman pagi dan sore doank, di sela selanya saya bisa sekolah sendiri, dan lagi saya bisa pilih shift secara online, saya bisa ambil shift diwaktu saya lagi gak kerja yang 2x seminggu itu..
Setelah proses yang cukup panjang dan karena penyertaan Tuhan akhirnya saya bisa mendapatkan kontrak kerja dan mulai kerja kemarin (25 Juni 2015).

My first uniform

Proses ini hanyalah awal.. saya baru belajar berjalan, sama seperti anak saya, Jose yang baru belajar berjalan juga.. Masih panjang perjalanan untuk mencapai cita cita.. Dalam proses itu pastilah ada yang namanya lelah, sedih dan lain lain, tapi sebagai orang yang memulai segalanya dari nol.. kami harus terus berusaha. Di bulan Juni 2015 ini juga, Jose mulai berjalan sendiri lho! Anak kami mulai berjalan di usia 15 bulan.. :)

Shaolin lagi jalan jalan

Bagi kami, berjalan bersama Tuhan adalah hal yang terutama, karena tangan-Nya selalu siap menopang kami.. Perjalanan hidup kami termasuk salah satu yang Challenging.. Tapi kami percaya, segala sesuatu akan indah pada waktunya.. Just for our better future!



Written by: Anita. C (26.06.2015)


Comments

Popular posts from this blog

Welcome 2017, Goodbye PTE and IELTS!

Hi, this is my first time to post an article in English.. Sorry for any grammar mistakes which might occur in this article :) I just want to share my horrid experience with PTE and IELTS in 2016. A rough journey, indeed, but Thanks God, I finally made it! I decide to write this in English to help everyone who have a plan to take an English proficiency test for any purposes. As you know, if you want to study abroad or migrate to some English Speaking Countries, like Australia, Canada or England, you definitely have to take this test. You can select the one which suits you best, either PTE or IELTS. IELTS academic for study purposes, and IELTS general for migration (except for teacher or nurse - they do not have any choices but the academic one). My journey to pursue the proficient level, IELTS 7 each or PTE 65 each started at the end of 2015. The meaning of each is I have to get minimum 7 in reading, listening, speaking and writing in IELTS or 65 in PTE Academic. My first choice was...

Akhirnya kami jadi Permanent Resident Australia

Akhirnyaaaa… Kami sekeluarga mendapatkan permanent residency dari Pemerintah Australia. Satu lagi mujizat Tuhan yang terbesar dalam hidupku. Perjalanan kami untuk mendapatkan PR Australia ini cukup panjang dan berkelok kelok dan dengan kuasa Tuhan, DIA membuat segala sesuatunya indah pada waktuNya. Berawal dari perbincangan saya dengan teman semasa kuliah dulu di tahun 2014, saya dan suami bertekad untuk mendapatkan permanent residency ini. Dan langkah yang kami ambil sebenarnya sangat ekstrem. Saat itu saya sedang hamil Jose. Di bulan ke 7 kehamilan saya, saya mencoba mendaftar di salah satu Institute di Melbourne dan akhirnya diterima di sana. Kami menjual aset kami yang ada di Indonesia untuk terbang ke Melbourne dan memulai hidup sebagai student di sana. Dengan berat hati karena pemegang Student Visa Australia tidak bisa mendapatkan fasilitas Childcare yang harganya bisa mencapai 700ribu rupiah / 60-70 AUD per hari maka kami pun meninggalkan anak kami yang masih bayi yang saat...

Jose's Birth Story

Hai.. Sebenarnya anakku Jose ini udah lahir sejak bulan Maret 2014, tapi karena aku baru tertarik buat nge-blog sekarang, jadinya aku baru nulis sekarang deh.. hehehe.. Oke, kita mulai ceritanya dari waktu Jose masih berupa benih di dalam kantong rahim.. Waktu itu bulan Agustus 2013, udah setengah taon lebih aku married and belum dikasih momongan.. Waktu itu aku iseng buat test pack soalnya aku merasakan gejala mens sejak seminggu yang lalu tapi nggak keluar keluar mens-nya.. Sempat ada bercak di CD tapi tetep aja aku tunggu berhari hari juga enggak bocor.. Akhirnya waktu itu hari sabtu, aku test deh pagi-pagi.. Pikirku sekalian mumpung sabtu, kalo hasilnya positif, bisa langsung ke dokter.. Aaaand.. Jeng jeng!! Dua garis lohhh sodara .. :) Aduh seneng donk ya.. langsung waktu itu aku kasih tau suami yang barusan bangun tidur.. waktu itu dia masih setengah percaya nggak percaya, akhirnya kami putuskan untuk USG hari itu juga ke Siloam Surabaya.. Dan ternyata aku hamil 4 minggu hihi...